Jumat, 26 Oktober 2012

Akulturasi dan Relasi Internakultural

NAMA : NUR PATRIA MUDAYATI
KELAS : 3PA04
NPM : 15510140


Akulturasi dan Relasi Internakultural

Akulturasi merupakan suatu proses sosial yang timbul di suatu kelompok dengan kebudayaan tertentu dan dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri. sedangkan Relasi Internakultural merupakan komunikasi yang terjadi antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda atau gabungan dari semua perbedaan kebudayaan tersebut.

Internalkultural memiliki beberapa fungsi sebagai berikut:

1. Fungsi Pribadi
Fungsi pribadi adalah fungsi-fungsi komunikasi yang ditunjukkan melalui perilaku komunikasi yang  bersumber dari seorang individu.

2.  Fungsi Sosial
Fungsi sosialisasi merupakan fungsi untuk mengajarkan dan memperkenalkan nilai-nilai kebudayaan suatu masyarakat kepada masyarakat lain.

Sumber :

Selasa, 02 Oktober 2012

Transmisi Budaya dan Biologis serta Awal Perkembangan dan Pengasuhan


Nama    : Nur Patria Mudayati
Kelas     : 3PA04
Npm      : 15510140
Artikel 2 Psikologi Lintas Budaya

Transmisi Budaya dan Biologis serta Awal Perkembangan dan Pengasuhan

Transmisi Budaya Melalui Enkulturasi
Enkulturasi atau pembudayaan adalah proses mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran dan sikap individu dengan sistem norma, adat, dan peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. Proses ini berlangsung sejak kecil, mulai dari lingkungan kecil (keluarga) ke lingkungan yang lebih besar (masyarakat).

Awal Perkembangan dan Pengasuhan
Persamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal transmisi budaya melalui masa remaja. Remaja adalah waktu manusia berumur belasan tahun. Pada masa remaja manusia tidak dapat disebut sudah dewasa tetapi tidak dapat pula disebut anak-anak. Masa remaja adalah masa peralihan manusia dari anak-anak menuju dewasa. Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun sampai 21 tahun. Pada dasarnya remaja memiliki semangat yang tinggi dalam aktivitas yang digemari. Mereka memiliki energi yang besar, yang dicurahkannya pada bidang tertentu, ide-ide kreatif terus bermunculan dari pikiran mereka. Selain itu, remaja juga memiliki rasa ingin tahu terhadap hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Untuk menuntaskan rasa ingin tahunya, mereka cenderung menggunakan metode coba-coba. Sebagai contoh, ketika berkembang sistem belajar yang menyenangkan atau disebut Quantum Learning, remaja cenderung mencoba hal tersebut. Namun hal ini tidak terbatas hanya pada budaya yang bersifat positif, tapi juga pada budaya negatif. Misalnya, ketika berkembang budaya “clubbing” di kota-kota besar, sebagian besar remaja marasa tertarik untuk mencoba, sehingga ketika sudah merasakan kelebihannya, perbuatan itu terus dilakukan.
Selanjutnya yang kedua ialah faktor eksternal. Keluarga berperan penting dalam membimbing remaja untuk menentukan yang baik atau tidak untuk dilakukan. Orang tua memegang peranan sangat penting didalam sebuah keluarga. Segala tindakanya akan berpengaruh besar terhadap perkembangan fisik dan psikis anak. Remaja dengan orang tua yang memperhatikan mereka cenderung dapat memilah pergaulan yang berdampak positif atau negatif bagi mereka. Kemudian, lingkungan turut mempengaruhi pergaulan.
Untuk mengantisipasi dampak tersebut, Remaja seharusnya dapat memilah dan menyaring perkembangan budaya saat ini, jangan menganggap semua pengaruh yang berkembang saat ini semuanya baik, karena belum pasti budaya barat tersebut diterima dan dianggap baik oleh Budaya Timur kita.

Referensi : http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi_lintas_budaya

Pengertian dan Tujuan Psikologi Lintas Budaya dan Hubungannya dengan Ilmu lain.


Nama    : Nur Patria Mudayati
Kelas     : 3PA04
Npm      : 15510140
Artikel 1 Psikologi Lintas Budaya

Pengertian Psikologi Lintas Budaya
Psikologi lintas budaya adalah kajian mengenai persamaan dan perbedaan dalam fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok etnik, mengenai hubungan-hubungan di antara ubaha psikologis dan sosio-budaya, ekologis, dan ubahan biologis. Serta mengenai perubahan-perubahan yang berlangsung dalam ubahan-ubahan tersebut.

Pengertian Psikologi Lintas Budaya Menurut Para Ahli
Menurut Segall, Dasen dan Poortinga, psikologi lintas-budaya adalah kajian mengenai perilaku manusia dan penyebarannya, sekaligus memperhitungkan cara perilaku itu dibentuk dan dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan sosial dan budaya. Definisi ini mengarahkan perhatian pada dua hal pokok: keragaman perilaku manusia di dunia dan kaitan antara perilaku terjadi. Definisi ini relatif sederhana dan memunculkan banyak persoalan. Sejumlah definisi lain mengungkapkan beberapa segi baru dan menekankan beberapa kompleksitas: 1. Riset lintas-budaya dalam psikologi adalah perbandingan sistematik dan eksplisit antara variabel psikologis di bawah kondisi-kondisi perbedaan budaya dengan maksud mengkhususkan antesede-anteseden dan proses-proses yang memerantarai kemunculan perbedaan perilaku.

Tujuan dari Psikologi Lintas Budaya
Tujuan dari mempelajari Psikologi Lintas Budaya adalah mencari persamaan dan perbedaan dalam fungsi-fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok etnik.

Hubungan Psikologi Lintas Budaya dengan Ilmu lain
Psikologi budaya mencoba mempelajari bagaimana faktor budaya dan etnis mempengaruhi perilaku manusia. Psikologi Sosial mempelajari tingkah laku manusia dalam berhubungan dengan masyarakat sekitarnya. Ruang Lingkup Antropologi psikologi sama dengan pengakajian secara psikologi lintas budaya (cross cultural) mengenai kepribadian dan sistem sosial budaya. Meliputi masalah-masalah sebagai berikut : A. Hubungan struktur sosial dan nilai-nilai budaya dengan pola pengasuhan anak pada umumnya. B. Hubungan antara struktur kepribadian rata dengan sistem peran (role system) dan aspek proyeksi dari dari kebudayaan.

Referensi : http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi_lintas_budaya

Selasa, 13 Maret 2012

Tugas 2 Artikel Kesehatan Mental


Akhir-akhir ini, mungkin banyak kasus-kasus yang kita jumpai mengenai terganggunya kesehetan mental anak, karena perceraian kedua orang tuanya. Emosi anak tersebut menjadi tidak stabil, dan anak tersebut dapat mengalami stres dan frustasi akibat perceraian orang tuanya tersebut. Stres, ketakutan, kecemasan sampai dengan depresi seringkali dialami anak-anak yang kedua orangtuanya bercerai. Kondisi-kondisi emosi tersebut timbul akibat rasa sakit yang timbul akibat perceraian orang tua mereka. Rasa sakit yang ada pada diri individulah yang kemudian menjadi pemicu ketidakstabilan emosi.
Stres yang dialami oleh anak korban perceraian itu muncul karena konflik interparental yang tinggi, terputusnya hubungan dengan salah satu orang tua, permasalahan kesehatan fisik dan mental orang tua dan hilangnya wibawa orang tua. Distres emosional akibat transgresi merupakan jalan bagi timbulnya perasaan tertekan dan emosi negatif yang melahirkan perilaku negatif pula.
Teori Psikologi :
Teori Emosi
1. Teori James-Lange
Emosi yang dirasakan adalah persepsi tentang perubahan tubuh. Salah satu dari teori paling awal dalam emosi dengan ringkas dinyatakan oleh Psikolog Amerika William James: “Kita merasa sedih karena kita menangis, marah karena kita menyerang, takut karena kita gemetar”. Teori ini dinyatakan di akhir abad ke-19 oleh James dan psikolog Eropa yaitu Carl Lange, yang membelokkan gagasan umum tentang emosi dari dalam ke luar. Diusulkan serangkaian kejadian dalam keadaan emosi:
(1) kita menerima situasi yang akan menghasilkan emosi,
(2) kita bereaksi ke situasi tersebut,
(3) kita memperhatikan reaksi kita.

2. Teori Cannon-Bard
Emosi yang dirasakan dan respon tubuh adalah kejadian yang berdiri sendiri-sendiri. Di tahun I920-an, teori lain tentang hubungan antara keadaan tubuh dan emosi yang dirasakan diajukan oleh Walter Cannon, berdasarkan pendekatan pada riset emosi yang dilakukan oleh Philip Bard. Teori Cannon-Bard menyatakan bahwa emosi yang dirasakan dan reaksi tubuh dalam emosi tidak tergantung satu sarna lain, keduanya dicetuskan secara bergantian. Menurut teori ini, kita pertama kali menerima emosi potensial yang dihasilkan dari dunia luar; kemudian daerah otak yang lebih rendah, seperti hipothalamus diaktifkan. Otak yang lebih rendah ini kemudian mengirim output dalam dua arah.

3. Teori Kognitif tentang Emosi
Teori ini memandang bahwa emosi merupakan interpretasi kognitif dari rangsangan emosional (baik dari luar atau dalam tubuh). Teori ini dikembangkan oleh Magda Arnold (1960), Albert Ellis (1962), dan Stanley Schachter dan Jerome Singer (1962).


Nama    : Nur Patria Mudayati
Npm      : 15510140
Kelas     : 2PA04


Kamis, 08 Maret 2012

Tugas 1 Artikel Kesehatan Mental



Ketika tubuh kita sedang sakit, kita dapat langsung datang ke dokter, untuk langsung memeriksakan penyakit kita. Tetapi, jika mental kita yang sakit apa yang harus dilakukan?. Banyak cara yang dapat kita lakukan.
Kesehatan mental adalah keadaan di mana seseorang menyadari aspek-aspek potensial dalam dirinya, dapat mengatasi tekanan-tekanan normal dalam hidup, menjadi pekerja produktif, dan dapat membuat kontribusi yang positif di dalam komunitasnya. Jika Anda bermasalah dengan aspek-aspek tersebut, mungkin Anda termasuk orang dengan kesehatan mental yang terganggu.
Ada empat cara untuk menghindari gangguan kesehatan mental :
1. Keseimbangan dalam berpikir
   Keseimbangan berpikir disini adalah, kita harus seimbang memikirkan sesuatu hal. jangan hanya fokos pada pemikiran negatif yang dapat menyebabkan diri kita menjadi stres.
2. Olahraga
       Melakukan olahraga rutin, akan sangat membantu bagi kesehatan tubuh dan mental kita.
3. Relaksasi
    Relaksasi, istirahat, ataupun berlibur juga, salah satu cara yang dapat kita lakukan agar otak dan tubuh kita dapat berrelaksasi.
4. Berekspresi
       Kita dapat mengekspresikan diri kita untuk sesuatu hal yang positif.


Nama     : Nur Patria Mudayati
Npm       : 15510140
Kelas     : 2PA04